Label

Tampilkan postingan dengan label Pertengahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertengahan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Aku Ada


Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.  Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa. karena kini kumiliki segalanya.

Kupandangi langkahmu yang ringan  dan tampak seperti melayang. Engkau tak seperti orang yang berjalan diatas pasir, yang kebanyakan tampak berat dan canggung.  Barangkali telah ratusan kali kau  lakukan itu, menyendiri di tepi pantai, menyusuri garisnya seperti merunut urat laut. Tapak kakimu sudah terbiasa bersahabat dengan pasir yang kadang menggembung dan kadang mengempis dimainkan napas ombak.

Matamu mencari bola merah yang disembunyikan arakan awan mendung. Sesekali kau buang pandangan ke arah lain, sekadar meyakinkan  kau tak sendiri di dunia ini, karena seringnya kau berharap demikian. Sesekali pula kau buang pandangan ke belahan langit di bahu kananmu, yang berwarna-warni  antara ungu, biru, dan abu yang menggetarkanmu sama hebatnya dengan bola merah yang kautelisik  sejak tadi.

Pesan itu akan tiba padamu, batinku.  Namun entah dengan cara apa.

Seseorang tampak lari menyusulmu, meneriakkan namamu keras-keras hingga kau tak punya pilihan lain selain menoleh. Seketika wajahmu berubah, rona yang kuhafal dan tak kusangka akan kembali lagi. Aku ingin meneriakkan bahagia ini, tapi entah dengan cara apa. Perlahan kulihat awan mendung bergeser, menyeruakkan mentari yang kaucari. Dan kulihat engkau makin berseri. Senjamu kian sempurna. Dia, yang kaucinta tampak berkilau disiram cahaya jingga.

Kalian berdua menghambur, mendekap erat satu sama lain hingga kakimu melayang di udara . Rasa hangat ketika dua tubuh bertemu, rasa lengkap ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika kedua pasang mata menatap. Aku merasakannya.  entah mengapa aku bisa.

Lelaki itu bertanya, kapan engkau pulang. Ia sudah menyiapkan makan malam, lengkap dengan lilin aromaterapi dan servis relaksasi melalui jemarinya yang apik. Matamu berbinar, memantulkan semburat jingga di langit dan semburat cinta  di langit hatimu. Namun kepalamu menggeleng dan kau berkata : sebentar lagi. Kau masih ingin disana menunggu hingga senja tamat ditutup malam. Lelaki itu mengangguk mantap. Ia tahu kemana hatimu berlabuh , dan kemana hatimu sesekali berlayar.  Ia menengadah   ke atas untuk menemukan bulan pucat  yang sejenak lagi  benderang dan menyinari langkahmu pulang. Ia lalu berbalik setelah mengecupmu di kening.

Kau menunggu punggungnya kabur dari pandangan sebelum kembali melanjutkan langkah-langkahmu diatas pasir.  Perjalananmu dibatas dua dunia. Cerah senja di  kiri  dan redup malam di kanan.  Dan aku memandangi sapuan ombak yang menghapus segala jejak , kecuali milikmu. Karena tinggal kau yang tersu melangkah. Tak ada jejakku di sampingmu.  Tak ada siapa-siapa. Namun aku merasa kita melangkah bersama. Entah bagaimana bisa begitu.

Sudah jarang kulihat kau menangis, tapi matamu terus bertanya. Bahasaku yang cuma tinggal rasa susah melekat pada kata., tapi aku tahu apa yang kautanya, dan aku tau apa jawabannya . Tinggal cara yang menjaga rahasia.

Di titik yang  selalu sama, tempat karang kecil yang menggunduk sedemikian rupa hingga pas diduduki  satu orang saja, langkahmu berhenti. Kau duduk menghadap lautan, menatap gumpalan-gumpalan awan yang seolah disedot horizon. Napasmu mulai teratur,  dan dudukmu mulai kaku seperti orang sembahyang.  Seperti ingin selaras dengan ombak  yang kian pasang,  napasmu kian panjang , hingga  di satu titik berubah memburu.

Terjadi gemuruh di lautan hatimu. Tiba-tiba kau melorot dari karang itu tersungkur menghujam pasir . Punggungmu berguncang.

Aku tahu apa yang terjadi, aku tau apa yang kautangiskan,  aku tau apa yang bisa menghiburmu, tapi cara itu masih jadi rahasia. Lalu kau berlari menuju ombak, membawa perasaan seberagam langit  saat senja antara  duka, murka dan cinta  yang entah harus dibuang kemana.  Saat itu kau ingin bergabung dengan rombongan awan  yang terhipnotis masuk kedalam rekahan ufuk barat.  Dan berenang saat  laut pasang mendadak menjadi pilihan yang masuk akal bagimu.

Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada disini. Namun bahasaku tinggal rasa.  Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak ada lagi. Aku hanya ingin merengkuhmu . Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah kau mencatat tanggal kepergianku, dan aku memang tak pernah kedalam bentuk yang kau harapkan.  Namun adakah engkau tahu? aku masih ada. Meski mendapatkanmu  seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis  saat disentuh. Aku tetap meras utuh.

Percayakah kamu? aku selalu ada. Ke dalam perasaan inilah engkau akan  bermuara. Ke dalam perasaan inilah kau akan pulang dan bertemu  aku lagi.  Dan perasaan itu dapat kau nikmati sekarang. Tanpa perlu mati. Sekarang.

Dengarkah kamu? Aku ada, aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku  seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber dan melebar. Rasakan perasaanku bersama alam untuk menyapamu. Kayuhanmu tahu-tahu berhenti . Sudah jauh engkau pergi meninggalkan pantai, basah kuyup dan megap-megap. Namun kau tergerak untuk diam, merasakan ombak yang aneh  mengembalikanmu mundur. Semakin kuat kau mengayuh, kau malah semakin mundur ke pasir tempat kau melangkah tadi.  Perlahan kau berdiri, menatap laut dengan tatapan asing seolah itu pertemuan kalian yang pertama. Setengah mati telah kau lawan  lautan untuk mencari jawab  atas amarahmu kepada kematian, dan dengan sabar bagai ibunda menimang anaknya  yang meraung murka agar kembali tenang, lautan mengembalikanmu ke tepiannya. Seolah  berkata, belum saatnya.  Tempatmu di sana.  Kembalilah ke pasir tempat jejak-jejakmu tersimpan, kembali padanya  yang menantimu dengan senyum sayang.

Seberaneka warna langit senja, muncul aneka ekspresi pada  mukamu. Matamu berkca-kaca, bibirmu tersenyum, lalu kau mulai menangis sambil tertawa. Aku tahu apa yang kausadari, aku tahu apa yang kausyukuri, dan kini aku tahu cara berbicara denganmu.

Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat berbagai cara.  Engkau hanya perlu merasa  dan biarkan alam berbicara.

Air matamu bercampur dengan jejak air laut.  Tawa cerahmu bercampur dan sesengguk tangis. Namun matamu tak lagi bertanya-tanya. Hari ini kau akan pulang untuk makan malam, bercinta dengan yang kaucinta ditemani cahaya dan wangi lilin aromaterapi. Engkau tersenyum bersama segenap jiwamu, karena hari ini kita sama-sama mengetahui satu rahasia. cinta adalah aku, cinta adalah engkau, cinta adalah dia, dan cinta tak pernah mati. meski jasadku sudah.

dengan mulut setengah dibekap, kau membisikkan kata yang dulu pernah menjadi namaku "kirana.."

Kali ini kau mengucapkan tidak seperti perpisahan, bukan jumpa perpisahan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua : aku tahu engkau tahu aku ada.

#Dewi "dee" Lestari

Sabtu, 02 Februari 2013

Coklat

apa yang ada  dalam sebungkus coklat? sekecap rasa manis? atau lebih dari itu? lalu apa selanjutnya yang akan kau lakukan dengan coklat itu? kau makan? kau bagikan ke orang lain? dan apakah semua itu lewat begitu saja melalaui kerongkonganmu yang sunyi itu? dan akhirnya berakhir di tempat pembuangan di keesokan harinya?
aku tak tahu apa yang akan kau lakukan ataupun apa yang kau dapat dari sebungkus coklat dan aku pun lebih tidak perduli apa yang kau pikirkan.

sebelum kau makan coklat itu, aku ingin kau tahu. semua itu berarti lebih untukku, bukan hanya coklat. ada jutaan kata yang tersemat disitu, beribu perasaan yang menyumbat cerna, ada secerca perasaan yang kata orang itu adalah cinta, ada pula rindu yang terkemas dalam sebongkah rasa manis, dan ada aku yang terlipat halus diantara padatnya coklat dan kacang almond yang akan kau lahap. apa kau sadar?

2 menit berlalu
kini kau telah lahap separuh bagian dari coklat itu. lalu apa yang kau rasa dengan seperempat bagian itu?
kini biarkan aku terbaring di sana, di sisa separuh yang terkulai di hadapmu.
nikmatilah, adakah aku yang kau tangkap di setiap indera yang kau miliki?

aku belum bisa memberikanmu harta yang berlimpah untuk kau nikmati. Tapi aku selalu berusaha untuk memberimu, meski terkadang adalah hal-hal sepele. Seperti setiap waktu yang ku beri untukmu dan sesuatu lain yang mungkin masih kau ingat.

aku percaya bahwa kita telah dipertemukan dengan baik melalui desain holistik maha agung sehingga tak ada sejumput atau bahkan setitik kesalahan yang tersemat disana. segala sesuatu yang dirancang indah dan melalui prosesi rumit diluar logika.

3 menit telah berlalu, kini hanya tinggal serobek kertas pembungkus coklat yang tadi kau lahap. Kini tak ada lagi coklat itu sudah tidak ada lagi di hadapmu. Namun rasa cinta dan rinduku akan selalu ada disana, tepat di hadapmu. Dapatkah kau rasakan?

Kau tak perlu kuatir, bila engkau merindukan coklat-coklat itu ada lagi di hadapmu. Akan ku berikan, semua  yang aku miliki untuk mendapatkan coklat untukmu.


Selamat Ulang Tahun



Dengan caramu mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya tanggal 14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang harus tepat jatuh pada pukul 00.00. kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika memperlakukan hidup seperti arena balap lari. namun imanku pada area itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish. Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti didetik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... lima menit yang lalu...

Aku tidak tahu jenis kemalangan apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan atau keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan menjadi pertanda kiamat kecil yang orang ramai  gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, perempuan bercinta dengan perempuan, dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir, tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin menjadi hari yang paling di antisipasi, dengan misalnya mengadopsi absurdisitas yang terjadi malam ini? Malam dimana kamu terlambat mengucapkan apa yang harus kamu ucapkan ... satu jam yang lalu...

Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit yang menyalakan aba-aba "1,2, dan 3 " kamu boleh terus percaya bahwa kemarin... besok... lusa... dan hari-hari sesudah itu... aku masih disini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... berjam-jam yang lalu.

By ; dewi 'dee' lestari

Rabu, 14 November 2012

Rindu

malam ini kurasakan lebih dingin dari segala malam yang pernah ku lewati. ingin ku terkurung dalam sebuah selimut yang membalutku dalam damai. dengan segala keagungan aku ingin berhenti dari semua yang menyesakkan lubang kerongkonganku ini. dari semua udara lembab dan kering yang menyumpal sepasang paru-paruku. 

malam ini begitu linglung, kurasakan angin begitu canggung berhembus. rembulan pucat disertai hujan rintik yang kaku menghujam dari pucuk langit dengan gemulai. dingin. canggung. linglung. 

entah mengapa malam ini aku merasa begitu jauh dari dirimu, dari sosok yang selama ini kukenal betul. sosok yang ku hafal betul temperature uap tubuhnya, atau setiap molekul karbon dioksida yang ia hembuskan tiap kali bersua bersamaku. sosok yang kucintai lebih dari aku mencintai diriku sendiri. 

aliran sungai yang beratas namakan dirimu didalam hati yang selama ini mengalir dengan tenang seolah hilang seketika.  berhenti  dan kering kerontang hanya dalam waktu sepersekian sekon. aku tak tahu kenapa. kurasakan malam ini begitu kabung. duka mengalir dalam darah. aku tak tahu kenapa. 

mungkin ini adalah suatu hal yang wajar bagi seluruh mahkluk hidup yang pernah merasakan cinta. terlebih merasakan cinta manusia yang sangat sulit diterka. semua rasa itu terhenti begitu mendadak, tidak mau bergerak sama sekali. beku, hampa. aku tak tahu kenapa. semua gelora dan air terjun yang semula kurasakan begitu deras mengalir, sirna. 

jauh terperangkap dalam sebuah imagi yang membawaku kian risik. apakah ini adalah untuk sementara, seperti pergantian musim hujan hendak menjadi kemarau? atau berhenti total permanen layaknya badai yang memporak-porandakan permukaan hati? 

tiap detik yang kulakukan saat ini semakin menghanyutkanku di dunia antah berantah yang tak terdapat apapun tentang kau. semakin jauh dari dirimu. semakin risik. 

bukankah aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri. Tapi aku pengap dan  kau telah nampak jengah. apakah aku sudah sampai pada titik nadzir pencapaianku padamu atau engkau yang sudah menemui titik zenith. nadzir dan zenith sejajar. entahlah aku tak tahu. kemana aku harus berlari?

tapi aku tak mau berhenti menyayangimu. menyayangimu adalah ibarat sebuah kerja yang dengan senang hati kulakukan. kukerjakan tanpa perlu komando dari siapapun di dunia ini. suatu pekerjaan yang kulakukan selama dua puluh empat dalam sehari, tanpa berhenti atau istirahat dan aku rela untuk tak digaji.

bersamamu, menyayangimu adalah sebuah anugerah yang begitu indah bagiku. membuat hidupku begitu utuh dan sempurna. bersamamu membuat batin dan sukmaku tersiram air damai setiap waktu. aku tak mau sungaiku berhenti untuk selamanya. aku tak mau mati kekeringan. jiwaku membutuhkanmu, membutuhkan sungai yang kau cipta melalui pendar-pendar itu.

maka,

biarkanlah aku untuk sejenak berada dalam dekapan malam untuk mengadu. menceritakan seluk beluk karat dan mata air yang telah kita kenal bersama. mengenang tiap milisekon dan inci tawa yang keluarkan dari kedua mulut kita. biarlah aku bergumam tentang senandung kecilmu saat menyambutku sesaat setibaku dirumah kita. biarkanlah aku menulis tiap bisik dan desah yang kau utarakan melalui bibirmu yang menggemaskan  itu. biarkanlah aku membawa setiap air mata dari mata air kehidupanmu itu. biarkanlah aku menyatu dengan siluet dirimu, larut dalam dingin api perdiangan di malam ini. 

agar aku bisa...

mengalirkan kembali sungai itu

bersatu menuju damai jiwa dan kekal dalam perpautan hati tanpa mengenal titik akhir.


Selasa, 13 November 2012

Kamus dan Makna Arti


Untuk Engkau 


Kamus dan Makna Arti

terkertap sudah waktu berlalu, segala hal yang telah kita lewati bersama dan segala hal yang kita lewatkan. mencari sebuah bekal hati yang kita kata sebagai cinta dan kasih sayang.  merenda perpautan hati senti demi senti, berpeluk erat dan merekatkan jemari. memilinkan setiap perasaan dari dua jiwa yang bergerak dalam satu lintasan oval dan terjal. demi engkau yang kucintai dengan segenap pucuk daun trembesi di kala musim semi. demi engkau yang memberikanku sinar jingga di saat perbatasan malam dan  siang. demi engkau yang menerangiku dengan sinar terang dari bola pucat yang mengintip dari balik awan saat semuanya memilih pergi dan hitam. demi engkau yang memiliki hatiku.

aku ada disini, menatap habis siluetmu yang terkena sinar jingga di bukit itu. sepuluh bulan kita bersama dalam dekap cinta kasih sayang dalam kamus kita.  sebuah kamus yang berisi bahasa abnormal yang kita susun bersama. sehingga tak ada satupun malaikat atau setan yang tahu. kamus yang menahbiskan setiap rasa yang pernah kita tanam dalam sebuah dokumentasi penuh makna.

hari ini seperti biasa yang kau lakukan, menjelang tanggal dua belas. engkau berada di bukit itu sambil memapah sebuah kamus berukuran besar di dadamu, dengan wajah berseri dan penuh rona kebahagiaan engkau menatap luas samudra jingga yang terpapar senja. kau tahu aku ada. kau membisikkan namaku dengan lembut... mengajakku untuk merengkuh dan menemanimu di batas dua dunia itu. aku terdiam namun aku tetap memandangimu lekat-lekat. dengan langkah kecil nan halus, engkau bersandar pada sebuah pohon pinus, lalu kau buka lembar demi lembar kamus setebal dua puluh sentimeter itu dan mungkin lembaran itu masih akan terus bertambah hingga kertap batas yang kau pun tak tahu akan berhenti di titik apa. kau baca lembar demi lembar kamus itu serta sesekali engkau menguncupkan bibirmu yang menggemaskan itu lalu kau tertawa dengan lembut. aku masih terus memandangimu dari kejauhan, dari belenggu batas mega yang belum dapat kita singkirkan. aku terdiam, memandangimu lekat-lekat.

tibalah engkau pada lembar ke dua ratus tujuh puluh sembilan. sebuah lembaran yang kau isi dengan kosa kata baru dan segala jenis  imagi. tiba-tiba kau terka  suatu noktah hitam yang tak kau tahu asal-muasalnya. dan ada sejumput engkau yang mempertanyakan noktah itu kepadaku yang tengah terpaku di batas langit oranye.  kau pun terus bertanya-tanya ada apa dengan lembaran yang harusnya adalah lembar putih tempat engkau meletakkan segala jenis kosakata  baru dalam perpautan hati kita. engkau berteriak sejadi-jadinya, napasmu mulai memburu. terjadi gemuruh dalam lautan hatimu seiring aku yang terus membisu di sudut horizon. tiba-tiba kau melorot dari pohon pinus tempat kau bersandar. aku tahu apa yang kautangiskan dan  aku tau cara mengobatinya, tapi nanti. lalu kau berjalan ke tepi bukit perbatasan antara  laut yang mendekap daratan. lalu kau berusaha berlari menuju horizon tempat ku berada, membawa perasaan seberagam langit senja antara duka, murka, cinta yang tak tahu harus dilabuhkan ke mana. saat itu pula terbesit di pikiranmu untuk terjun bebas melayang dari puncak bukit untuk berlabuh ke lautan biru penuh deburan ombak. namun akhirnya kau memilih untuk larut bersama senja menuju rekahan mega di ufuk barat sebagai pilihan yang masuk akal bagimu. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat.

ingin rasanya aku ikut berlari, menyusulmu berteriak kepadamu agar kau kembali, merengkuh bahumu dan mengecup keningmu. namun bahasaku tinggal  rasa, bagaimana aku bisa berkata jika aku masih terus  disini. engkau yang lelah karena karena aku yang masih diam seribu bahasa.  engkau bersusah hati dan terbang perlahan menuju suatu amarah, namun kau tak sanggup. makna cinta di kamus kita lebih kuat daripada makna amarah, duka, maupun murka. kau menangis sejadi-jadinya. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat dan sesekali menyeka mata air.

engkau lelah, kini kuizinkan engkau terlelap karena tiupan angin yang membelai rambut panjangmu, memberikan sensasi yang akan memanjakanmu disaat aku terkurung disini. tapi aku janji akan pulang kepadamu suatu hari nanti. memelukmu dengan hangat dan terbuka. menerimamu, mengertimu, memahami tiap bahasa roh yang kau tiupkan kepadaku. menafsirkan berbait-bait doa yang kau kirimkan untukku. aku yakin engkaulah jawaban atas kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. jagalah hati itu. jaga kamus dan pilinan hati yang sudah kita jalin ini.

Percayalah kepadaku, dalam perasaanku inilah engkau akan pulang dan bertemu denganku. dan perasaan ini dapat kau nikmati sekarang, nanti, besok ataupun seratus ribu tahun kemudian. kaulah arti kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. suatu saat nanti aku akan mendekapmu perlahan, mengecup dahimu,  dan menempatkan kepalamu di pundakku. meruntuhkan diam yang selama ini membelenggu.



Senin, 03 September 2012

Senja




          senja, sejak pertama kali aku mengenal, ia tidak pernah berubah. setiap lekuk dan guratan tubuhnya aku hafal betul. tiap hembus udara, tiap uap tubuh yang mengalir deras, tiap berkas sinar jingga oranye yang memancar di tiap kelebat kehadirannya dan bahkan sedikit gerik dari kejauhan pun aku hafal.   tiap hari kami bercengkerama, tidak hanya untuk melepas kerinduan yang kami alami tiap detiknya tapi juga depa yang telah  tertempuh. senja selalu nampak ramah denganku, menyapa dengan tutur halus dan manja. aku selalu terbuai dengan bujuk rayunya sehingga aku pun betah berlama-lama dengannya untuk sekedar mengelus rambutnya yang tergerai sebahu itu. 
          senja  mengajarkan aku cara tertawa bebas, cara berbisik dengan dedaunan, dan mengintip bidadari yang tengah hanyut dalam kegembiraan penuh canda di pinggir kali. senja tak sekali pun muram apalagi bersedih. ia bebas bagai angin. padahal ia bukan angin, ia senja. tapi ia tak pernah lupa bahwa ia tetaplah secercah senja. itulah hal yang paling kusuka. aku senang sekali mendengar tawanya yang terkekeh-kekeh tiap aku menceritakan hal-hal konyol yang kualami sepanjang hari. suara merdunya sungguh menenangkan batinku. apalagi ketika ia asyik bercerita tentang hidupnya. tentang bagaimana ia menjelma ricik. terkadang ia juga bercerita tentang ibu bapaknya yang jauh disana, meninggalkan ia dan satu-satunya saudara yang tak pernah disebutkan namanya. anonim.
           senja tak pernah mendamba pagi. ia selalu menghindar kala pagi datang. jika ia terlanjur bertemu pagi, perangainya pun berubah. ia pun seolah tak mengenalku, menyapapun tidak. entah kenapa. namun aku pun tak berusaha mencari tahu alasan kenapa ia membenci pagi. yang ku tahu  ia senjaku, senja milikku.  selamanya. dan aku tak akan pernah bosan menemaninya. pertanyaan terbesarku adalah justru apakah senjaku juga berhorizon sama denganku? aku juga tak tahu. aku tak berusaha mencari tahu. yang ku tahu ia senjaku, senja milikku.
           hari ini aku akan menemuinya. seperti biasa, kami berjumpa di bukit sinai. aku berjalan sambil sesekali berlari mengejar waktu untuk bertemu senja. karena perjalanan ini sangatlah memakan waktu. aku harus mengitari bukit itu terlebih dahulu. menanggalkan tiap hal buruk agar berceceran sepanajang jalan. aku bisa menemui senja dengan keadaan bersih. kubayangkan ia disana, di puncak bukit sinai, menyapaku hangat dan manja seperti  biasanya. 
            kuhitung tiap detik perjalananku untuk bertemu dengannya hari ini, 648000 milisekon. 
            tibalah aku di puncak bukit. kupandangi sekelilingku, rerumputan hijau yang tumbuh teratur, seonggok batu hitam besar, sebatang pohon trembesi menjulang tegap, udara embun sekeliling yang sangat  kukenal dengan akrab.  kusapa merdu senja milikku, kusebut namanya dengan halus. namun ia tak menjawab panggilanku, tak kudengar pula suara merdu itu. ia tak ada disana. ah, mungkin ia datang agak terlambat atau dia memang belum selesai dari pekerjaan yang menjadikannya senja. aku akan menunggunya disitu, dibawah pohon trembesi. 
           mungkin senjaku tengah sekedar membantu Tuhan yang tengah kerepotan menyebarkan petang di seluruh penjuru dunia. membantu Tuhan untuk memberi sejumput lembar surga atas pengharapan yang tak kunjung usai untuk mereka atau hanya justru memberi seberkas tempat untuk memulai mimpi dan peraduan atas kejamnya matahari. 
           aku masih menunggu disini, bedanya sekarang aku telah memiliki perapian yang kubuat seadanya dari dedaunan kering pohon trembesi yang menaungiku. kubuat seadanya, dengan api kecil  dan udara yang semakin menggigit. aku masih bertahan. aku tak akan pulang sebelum bertemu senja. aku akan bertahan disini. menanti kedatangannya dengan penuh senyum manja. 
           apakah mungkin Tuhan berkehendak agar senja lembur kerja? atau dia lupa ada janji denganku di bukit ini? ah, mungkin ia lembur. Tuhan pasti sangat kerepotan dengan permintaan manusia akhir-akhir ini. aku bisa maklum. karena Tuhan sendiri, sedangkan ciptaannya tak terhingga jumlahnya. pantas saja senja lembur bekerja. ya, aku akan tetap menunggunya disini. sampai kapanpun. 
           waktu berjalan terus, menggilas semua yang ia lewati. terkadang waktu justru lebih brutal dari apapun di dunia ini. melahap dan merampas tiap detik jatah hidup atas segala yang hidup. dengan perlahan merenggut nyawa tiap inci keluar dari kerongkongan hingga terlepas secara sempurna. namun waktu tak akan mampu mengalahkanku, waktu tak akan mampu menumbangkanku untuk bisa bertemu dengan senja.
            aku tetap bertahan......
            sampai detik ini. aku masih menunggu senja dengan senang hati dan suka cita. pohon trembesi dan batu hitam itu masih bertahan menemaniku menunggu kedatangan senja. mereka kawan terbaikku. kadang kami berbincang tentang keindahan senja yang kunanti-nanti. namun kini si batu hitam harus menghela nafas panjang tiap kali bercerita. nafasnya mulai tak lancar dan kadang tersengal. begitu pula si trembesi, kini ia membungkuk. tubuhny tak lagi kekar menjulang diatas bukit. lumut mulai menjalar di sekujur tubuhnya. aku masih akan terus menunggu. ya, aku terus menunggu. namun kini aku tinggal aku sendiri, aku. bukan siapa-siapa. ragaku telah menyerah, ia tergolek terkubur disitu, di bawah pohon trembesi  tua itu dan batu hitam itu sebagai lambang bahwa aku terbaring  di bawah tanah mereka berpijak. yaa, batu hitam itu menjadi batu nisan ku. meski hanya jiwa ini yang tersisa, aku akan selamanya disana. aku masih terus menunggu......................... senjaku..........







Numpang Lewat