malam ini kurasakan lebih dingin dari segala malam yang pernah ku lewati. ingin ku terkurung dalam sebuah selimut yang membalutku dalam damai. dengan segala keagungan aku ingin berhenti dari semua yang menyesakkan lubang kerongkonganku ini. dari semua udara lembab dan kering yang menyumpal sepasang paru-paruku.
malam ini begitu linglung, kurasakan angin begitu canggung berhembus. rembulan pucat disertai hujan rintik yang kaku menghujam dari pucuk langit dengan gemulai. dingin. canggung. linglung.
entah mengapa malam ini aku merasa begitu jauh dari dirimu, dari sosok yang selama ini kukenal betul. sosok yang ku hafal betul temperature uap tubuhnya, atau setiap molekul karbon dioksida yang ia hembuskan tiap kali bersua bersamaku. sosok yang kucintai lebih dari aku mencintai diriku sendiri.
aliran sungai yang beratas namakan dirimu didalam hati yang selama ini mengalir dengan tenang seolah hilang seketika. berhenti dan kering kerontang hanya dalam waktu sepersekian sekon. aku tak tahu kenapa. kurasakan malam ini begitu kabung. duka mengalir dalam darah. aku tak tahu kenapa.
mungkin ini adalah suatu hal yang wajar bagi seluruh mahkluk hidup yang pernah merasakan cinta. terlebih merasakan cinta manusia yang sangat sulit diterka. semua rasa itu terhenti begitu mendadak, tidak mau bergerak sama sekali. beku, hampa. aku tak tahu kenapa. semua gelora dan air terjun yang semula kurasakan begitu deras mengalir, sirna.
jauh terperangkap dalam sebuah imagi yang membawaku kian risik. apakah ini adalah untuk sementara, seperti pergantian musim hujan hendak menjadi kemarau? atau berhenti total permanen layaknya badai yang memporak-porandakan permukaan hati?
tiap detik yang kulakukan saat ini semakin menghanyutkanku di dunia antah berantah yang tak terdapat apapun tentang kau. semakin jauh dari dirimu. semakin risik.
bukankah aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri. Tapi aku pengap dan kau telah nampak jengah. apakah aku sudah sampai pada titik nadzir pencapaianku padamu atau engkau yang sudah menemui titik zenith. nadzir dan zenith sejajar. entahlah aku tak tahu. kemana aku harus berlari?
tapi aku tak mau berhenti menyayangimu. menyayangimu adalah ibarat sebuah kerja yang dengan senang hati kulakukan. kukerjakan tanpa perlu komando dari siapapun di dunia ini. suatu pekerjaan yang kulakukan selama dua puluh empat dalam sehari, tanpa berhenti atau istirahat dan aku rela untuk tak digaji.
bersamamu, menyayangimu adalah sebuah anugerah yang begitu indah bagiku. membuat hidupku begitu utuh dan sempurna. bersamamu membuat batin dan sukmaku tersiram air damai setiap waktu. aku tak mau sungaiku berhenti untuk selamanya. aku tak mau mati kekeringan. jiwaku membutuhkanmu, membutuhkan sungai yang kau cipta melalui pendar-pendar itu.
maka,
biarkanlah aku untuk sejenak berada dalam dekapan malam untuk mengadu. menceritakan seluk beluk karat dan mata air yang telah kita kenal bersama. mengenang tiap milisekon dan inci tawa yang keluarkan dari kedua mulut kita. biarlah aku bergumam tentang senandung kecilmu saat menyambutku sesaat setibaku dirumah kita. biarkanlah aku menulis tiap bisik dan desah yang kau utarakan melalui bibirmu yang menggemaskan itu. biarkanlah aku membawa setiap air mata dari mata air kehidupanmu itu. biarkanlah aku menyatu dengan siluet dirimu, larut dalam dingin api perdiangan di malam ini.
agar aku bisa...
mengalirkan kembali sungai itu
bersatu menuju damai jiwa dan kekal dalam perpautan hati tanpa mengenal titik akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar