Kamis, 18 Juli 2013
Aku Ada
Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa. karena kini kumiliki segalanya.
Kupandangi langkahmu yang ringan dan tampak seperti melayang. Engkau tak seperti orang yang berjalan diatas pasir, yang kebanyakan tampak berat dan canggung. Barangkali telah ratusan kali kau lakukan itu, menyendiri di tepi pantai, menyusuri garisnya seperti merunut urat laut. Tapak kakimu sudah terbiasa bersahabat dengan pasir yang kadang menggembung dan kadang mengempis dimainkan napas ombak.
Matamu mencari bola merah yang disembunyikan arakan awan mendung. Sesekali kau buang pandangan ke arah lain, sekadar meyakinkan kau tak sendiri di dunia ini, karena seringnya kau berharap demikian. Sesekali pula kau buang pandangan ke belahan langit di bahu kananmu, yang berwarna-warni antara ungu, biru, dan abu yang menggetarkanmu sama hebatnya dengan bola merah yang kautelisik sejak tadi.
Pesan itu akan tiba padamu, batinku. Namun entah dengan cara apa.
Seseorang tampak lari menyusulmu, meneriakkan namamu keras-keras hingga kau tak punya pilihan lain selain menoleh. Seketika wajahmu berubah, rona yang kuhafal dan tak kusangka akan kembali lagi. Aku ingin meneriakkan bahagia ini, tapi entah dengan cara apa. Perlahan kulihat awan mendung bergeser, menyeruakkan mentari yang kaucari. Dan kulihat engkau makin berseri. Senjamu kian sempurna. Dia, yang kaucinta tampak berkilau disiram cahaya jingga.
Kalian berdua menghambur, mendekap erat satu sama lain hingga kakimu melayang di udara . Rasa hangat ketika dua tubuh bertemu, rasa lengkap ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika kedua pasang mata menatap. Aku merasakannya. entah mengapa aku bisa.
Lelaki itu bertanya, kapan engkau pulang. Ia sudah menyiapkan makan malam, lengkap dengan lilin aromaterapi dan servis relaksasi melalui jemarinya yang apik. Matamu berbinar, memantulkan semburat jingga di langit dan semburat cinta di langit hatimu. Namun kepalamu menggeleng dan kau berkata : sebentar lagi. Kau masih ingin disana menunggu hingga senja tamat ditutup malam. Lelaki itu mengangguk mantap. Ia tahu kemana hatimu berlabuh , dan kemana hatimu sesekali berlayar. Ia menengadah ke atas untuk menemukan bulan pucat yang sejenak lagi benderang dan menyinari langkahmu pulang. Ia lalu berbalik setelah mengecupmu di kening.
Kau menunggu punggungnya kabur dari pandangan sebelum kembali melanjutkan langkah-langkahmu diatas pasir. Perjalananmu dibatas dua dunia. Cerah senja di kiri dan redup malam di kanan. Dan aku memandangi sapuan ombak yang menghapus segala jejak , kecuali milikmu. Karena tinggal kau yang tersu melangkah. Tak ada jejakku di sampingmu. Tak ada siapa-siapa. Namun aku merasa kita melangkah bersama. Entah bagaimana bisa begitu.
Sudah jarang kulihat kau menangis, tapi matamu terus bertanya. Bahasaku yang cuma tinggal rasa susah melekat pada kata., tapi aku tahu apa yang kautanya, dan aku tau apa jawabannya . Tinggal cara yang menjaga rahasia.
Di titik yang selalu sama, tempat karang kecil yang menggunduk sedemikian rupa hingga pas diduduki satu orang saja, langkahmu berhenti. Kau duduk menghadap lautan, menatap gumpalan-gumpalan awan yang seolah disedot horizon. Napasmu mulai teratur, dan dudukmu mulai kaku seperti orang sembahyang. Seperti ingin selaras dengan ombak yang kian pasang, napasmu kian panjang , hingga di satu titik berubah memburu.
Terjadi gemuruh di lautan hatimu. Tiba-tiba kau melorot dari karang itu tersungkur menghujam pasir . Punggungmu berguncang.
Aku tahu apa yang terjadi, aku tau apa yang kautangiskan, aku tau apa yang bisa menghiburmu, tapi cara itu masih jadi rahasia. Lalu kau berlari menuju ombak, membawa perasaan seberagam langit saat senja antara duka, murka dan cinta yang entah harus dibuang kemana. Saat itu kau ingin bergabung dengan rombongan awan yang terhipnotis masuk kedalam rekahan ufuk barat. Dan berenang saat laut pasang mendadak menjadi pilihan yang masuk akal bagimu.
Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada disini. Namun bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak ada lagi. Aku hanya ingin merengkuhmu . Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah kau mencatat tanggal kepergianku, dan aku memang tak pernah kedalam bentuk yang kau harapkan. Namun adakah engkau tahu? aku masih ada. Meski mendapatkanmu seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis saat disentuh. Aku tetap meras utuh.
Percayakah kamu? aku selalu ada. Ke dalam perasaan inilah engkau akan bermuara. Ke dalam perasaan inilah kau akan pulang dan bertemu aku lagi. Dan perasaan itu dapat kau nikmati sekarang. Tanpa perlu mati. Sekarang.
Dengarkah kamu? Aku ada, aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber dan melebar. Rasakan perasaanku bersama alam untuk menyapamu. Kayuhanmu tahu-tahu berhenti . Sudah jauh engkau pergi meninggalkan pantai, basah kuyup dan megap-megap. Namun kau tergerak untuk diam, merasakan ombak yang aneh mengembalikanmu mundur. Semakin kuat kau mengayuh, kau malah semakin mundur ke pasir tempat kau melangkah tadi. Perlahan kau berdiri, menatap laut dengan tatapan asing seolah itu pertemuan kalian yang pertama. Setengah mati telah kau lawan lautan untuk mencari jawab atas amarahmu kepada kematian, dan dengan sabar bagai ibunda menimang anaknya yang meraung murka agar kembali tenang, lautan mengembalikanmu ke tepiannya. Seolah berkata, belum saatnya. Tempatmu di sana. Kembalilah ke pasir tempat jejak-jejakmu tersimpan, kembali padanya yang menantimu dengan senyum sayang.
Seberaneka warna langit senja, muncul aneka ekspresi pada mukamu. Matamu berkca-kaca, bibirmu tersenyum, lalu kau mulai menangis sambil tertawa. Aku tahu apa yang kausadari, aku tahu apa yang kausyukuri, dan kini aku tahu cara berbicara denganmu.
Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat berbagai cara. Engkau hanya perlu merasa dan biarkan alam berbicara.
Air matamu bercampur dengan jejak air laut. Tawa cerahmu bercampur dan sesengguk tangis. Namun matamu tak lagi bertanya-tanya. Hari ini kau akan pulang untuk makan malam, bercinta dengan yang kaucinta ditemani cahaya dan wangi lilin aromaterapi. Engkau tersenyum bersama segenap jiwamu, karena hari ini kita sama-sama mengetahui satu rahasia. cinta adalah aku, cinta adalah engkau, cinta adalah dia, dan cinta tak pernah mati. meski jasadku sudah.
dengan mulut setengah dibekap, kau membisikkan kata yang dulu pernah menjadi namaku "kirana.."
Kali ini kau mengucapkan tidak seperti perpisahan, bukan jumpa perpisahan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua : aku tahu engkau tahu aku ada.
#Dewi "dee" Lestari
Langganan:
Postingan (Atom)