Jumat, 02 Agustus 2013
Peluk
Hati adalah air. aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar dan hatiku berhenti mengalir. Siapa yang mengatur itu? Aku pun tak tahu. Barangkali kita berdua, tanpa kita sadari. Barangkali hidup itu sendiri sehingga sia-sia menyalahkan siapa-siapa.
aku ingin mengalir. Hatiku belum mau mati. Aliran ini harus kembali memecah dua agar kita sama-sama bergerak. Sebelum akhirnya kita terlalu jengah dan pisah dalam amarah
Kamis, 18 Juli 2013
Aku Ada
Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa. karena kini kumiliki segalanya.
Kupandangi langkahmu yang ringan dan tampak seperti melayang. Engkau tak seperti orang yang berjalan diatas pasir, yang kebanyakan tampak berat dan canggung. Barangkali telah ratusan kali kau lakukan itu, menyendiri di tepi pantai, menyusuri garisnya seperti merunut urat laut. Tapak kakimu sudah terbiasa bersahabat dengan pasir yang kadang menggembung dan kadang mengempis dimainkan napas ombak.
Matamu mencari bola merah yang disembunyikan arakan awan mendung. Sesekali kau buang pandangan ke arah lain, sekadar meyakinkan kau tak sendiri di dunia ini, karena seringnya kau berharap demikian. Sesekali pula kau buang pandangan ke belahan langit di bahu kananmu, yang berwarna-warni antara ungu, biru, dan abu yang menggetarkanmu sama hebatnya dengan bola merah yang kautelisik sejak tadi.
Pesan itu akan tiba padamu, batinku. Namun entah dengan cara apa.
Seseorang tampak lari menyusulmu, meneriakkan namamu keras-keras hingga kau tak punya pilihan lain selain menoleh. Seketika wajahmu berubah, rona yang kuhafal dan tak kusangka akan kembali lagi. Aku ingin meneriakkan bahagia ini, tapi entah dengan cara apa. Perlahan kulihat awan mendung bergeser, menyeruakkan mentari yang kaucari. Dan kulihat engkau makin berseri. Senjamu kian sempurna. Dia, yang kaucinta tampak berkilau disiram cahaya jingga.
Kalian berdua menghambur, mendekap erat satu sama lain hingga kakimu melayang di udara . Rasa hangat ketika dua tubuh bertemu, rasa lengkap ketika dua jiwa mendekat, rasa rindu yang tuntas ketika kedua pasang mata menatap. Aku merasakannya. entah mengapa aku bisa.
Lelaki itu bertanya, kapan engkau pulang. Ia sudah menyiapkan makan malam, lengkap dengan lilin aromaterapi dan servis relaksasi melalui jemarinya yang apik. Matamu berbinar, memantulkan semburat jingga di langit dan semburat cinta di langit hatimu. Namun kepalamu menggeleng dan kau berkata : sebentar lagi. Kau masih ingin disana menunggu hingga senja tamat ditutup malam. Lelaki itu mengangguk mantap. Ia tahu kemana hatimu berlabuh , dan kemana hatimu sesekali berlayar. Ia menengadah ke atas untuk menemukan bulan pucat yang sejenak lagi benderang dan menyinari langkahmu pulang. Ia lalu berbalik setelah mengecupmu di kening.
Kau menunggu punggungnya kabur dari pandangan sebelum kembali melanjutkan langkah-langkahmu diatas pasir. Perjalananmu dibatas dua dunia. Cerah senja di kiri dan redup malam di kanan. Dan aku memandangi sapuan ombak yang menghapus segala jejak , kecuali milikmu. Karena tinggal kau yang tersu melangkah. Tak ada jejakku di sampingmu. Tak ada siapa-siapa. Namun aku merasa kita melangkah bersama. Entah bagaimana bisa begitu.
Sudah jarang kulihat kau menangis, tapi matamu terus bertanya. Bahasaku yang cuma tinggal rasa susah melekat pada kata., tapi aku tahu apa yang kautanya, dan aku tau apa jawabannya . Tinggal cara yang menjaga rahasia.
Di titik yang selalu sama, tempat karang kecil yang menggunduk sedemikian rupa hingga pas diduduki satu orang saja, langkahmu berhenti. Kau duduk menghadap lautan, menatap gumpalan-gumpalan awan yang seolah disedot horizon. Napasmu mulai teratur, dan dudukmu mulai kaku seperti orang sembahyang. Seperti ingin selaras dengan ombak yang kian pasang, napasmu kian panjang , hingga di satu titik berubah memburu.
Terjadi gemuruh di lautan hatimu. Tiba-tiba kau melorot dari karang itu tersungkur menghujam pasir . Punggungmu berguncang.
Aku tahu apa yang terjadi, aku tau apa yang kautangiskan, aku tau apa yang bisa menghiburmu, tapi cara itu masih jadi rahasia. Lalu kau berlari menuju ombak, membawa perasaan seberagam langit saat senja antara duka, murka dan cinta yang entah harus dibuang kemana. Saat itu kau ingin bergabung dengan rombongan awan yang terhipnotis masuk kedalam rekahan ufuk barat. Dan berenang saat laut pasang mendadak menjadi pilihan yang masuk akal bagimu.
Ingin rasanya aku ikut berlari, berteriak agar kau kembali, mencengkeram bahumu agar kau tahu aku ada disini. Namun bahasaku tinggal rasa. Dan entah bagaimana caranya agar rasa bisa bersuara jika raga tak ada lagi. Aku hanya ingin merengkuhmu . Adakah engkau tahu? Aku ada. Setahun sudah kau mencatat tanggal kepergianku, dan aku memang tak pernah kedalam bentuk yang kau harapkan. Namun adakah engkau tahu? aku masih ada. Meski mendapatkanmu seperti lawatan ke museum tempat segala keindahan dikurung etalase kaca hingga berlapis saat disentuh. Aku tetap meras utuh.
Percayakah kamu? aku selalu ada. Ke dalam perasaan inilah engkau akan bermuara. Ke dalam perasaan inilah kau akan pulang dan bertemu aku lagi. Dan perasaan itu dapat kau nikmati sekarang. Tanpa perlu mati. Sekarang.
Dengarkah kamu? Aku ada, aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber dan melebar. Rasakan perasaanku bersama alam untuk menyapamu. Kayuhanmu tahu-tahu berhenti . Sudah jauh engkau pergi meninggalkan pantai, basah kuyup dan megap-megap. Namun kau tergerak untuk diam, merasakan ombak yang aneh mengembalikanmu mundur. Semakin kuat kau mengayuh, kau malah semakin mundur ke pasir tempat kau melangkah tadi. Perlahan kau berdiri, menatap laut dengan tatapan asing seolah itu pertemuan kalian yang pertama. Setengah mati telah kau lawan lautan untuk mencari jawab atas amarahmu kepada kematian, dan dengan sabar bagai ibunda menimang anaknya yang meraung murka agar kembali tenang, lautan mengembalikanmu ke tepiannya. Seolah berkata, belum saatnya. Tempatmu di sana. Kembalilah ke pasir tempat jejak-jejakmu tersimpan, kembali padanya yang menantimu dengan senyum sayang.
Seberaneka warna langit senja, muncul aneka ekspresi pada mukamu. Matamu berkca-kaca, bibirmu tersenyum, lalu kau mulai menangis sambil tertawa. Aku tahu apa yang kausadari, aku tahu apa yang kausyukuri, dan kini aku tahu cara berbicara denganmu.
Pesan ini akhirnya tiba. Saat pasir tempatmu berpijak pergi ditelan ombak, akulah lautan yang memeluk pantaimu erat. Akulah langit beragam warna yang mengasihimu lewat berbagai cara. Engkau hanya perlu merasa dan biarkan alam berbicara.
Air matamu bercampur dengan jejak air laut. Tawa cerahmu bercampur dan sesengguk tangis. Namun matamu tak lagi bertanya-tanya. Hari ini kau akan pulang untuk makan malam, bercinta dengan yang kaucinta ditemani cahaya dan wangi lilin aromaterapi. Engkau tersenyum bersama segenap jiwamu, karena hari ini kita sama-sama mengetahui satu rahasia. cinta adalah aku, cinta adalah engkau, cinta adalah dia, dan cinta tak pernah mati. meski jasadku sudah.
dengan mulut setengah dibekap, kau membisikkan kata yang dulu pernah menjadi namaku "kirana.."
Kali ini kau mengucapkan tidak seperti perpisahan, bukan jumpa perpisahan, melainkan sebuah kesadaran. Rahasia kecil kita berdua : aku tahu engkau tahu aku ada.
#Dewi "dee" Lestari
Sabtu, 02 Februari 2013
Coklat
apa yang ada dalam sebungkus coklat? sekecap rasa manis? atau lebih dari itu? lalu apa selanjutnya yang akan kau lakukan dengan coklat itu? kau makan? kau bagikan ke orang lain? dan apakah semua itu lewat begitu saja melalaui kerongkonganmu yang sunyi itu? dan akhirnya berakhir di tempat pembuangan di keesokan harinya?
aku tak tahu apa yang akan kau lakukan ataupun apa yang kau dapat dari sebungkus coklat dan aku pun lebih tidak perduli apa yang kau pikirkan.
sebelum kau makan coklat itu, aku ingin kau tahu. semua itu berarti lebih untukku, bukan hanya coklat. ada jutaan kata yang tersemat disitu, beribu perasaan yang menyumbat cerna, ada secerca perasaan yang kata orang itu adalah cinta, ada pula rindu yang terkemas dalam sebongkah rasa manis, dan ada aku yang terlipat halus diantara padatnya coklat dan kacang almond yang akan kau lahap. apa kau sadar?
2 menit berlalu
kini kau telah lahap separuh bagian dari coklat itu. lalu apa yang kau rasa dengan seperempat bagian itu?
kini biarkan aku terbaring di sana, di sisa separuh yang terkulai di hadapmu.
nikmatilah, adakah aku yang kau tangkap di setiap indera yang kau miliki?
aku belum bisa memberikanmu harta yang berlimpah untuk kau nikmati. Tapi aku selalu berusaha untuk memberimu, meski terkadang adalah hal-hal sepele. Seperti setiap waktu yang ku beri untukmu dan sesuatu lain yang mungkin masih kau ingat.
aku percaya bahwa kita telah dipertemukan dengan baik melalui desain holistik maha agung sehingga tak ada sejumput atau bahkan setitik kesalahan yang tersemat disana. segala sesuatu yang dirancang indah dan melalui prosesi rumit diluar logika.
3 menit telah berlalu, kini hanya tinggal serobek kertas pembungkus coklat yang tadi kau lahap. Kini tak ada lagi coklat itu sudah tidak ada lagi di hadapmu. Namun rasa cinta dan rinduku akan selalu ada disana, tepat di hadapmu. Dapatkah kau rasakan?
Kau tak perlu kuatir, bila engkau merindukan coklat-coklat itu ada lagi di hadapmu. Akan ku berikan, semua yang aku miliki untuk mendapatkan coklat untukmu.
aku tak tahu apa yang akan kau lakukan ataupun apa yang kau dapat dari sebungkus coklat dan aku pun lebih tidak perduli apa yang kau pikirkan.
sebelum kau makan coklat itu, aku ingin kau tahu. semua itu berarti lebih untukku, bukan hanya coklat. ada jutaan kata yang tersemat disitu, beribu perasaan yang menyumbat cerna, ada secerca perasaan yang kata orang itu adalah cinta, ada pula rindu yang terkemas dalam sebongkah rasa manis, dan ada aku yang terlipat halus diantara padatnya coklat dan kacang almond yang akan kau lahap. apa kau sadar?
2 menit berlalu
kini kau telah lahap separuh bagian dari coklat itu. lalu apa yang kau rasa dengan seperempat bagian itu?
kini biarkan aku terbaring di sana, di sisa separuh yang terkulai di hadapmu.
nikmatilah, adakah aku yang kau tangkap di setiap indera yang kau miliki?
aku belum bisa memberikanmu harta yang berlimpah untuk kau nikmati. Tapi aku selalu berusaha untuk memberimu, meski terkadang adalah hal-hal sepele. Seperti setiap waktu yang ku beri untukmu dan sesuatu lain yang mungkin masih kau ingat.
aku percaya bahwa kita telah dipertemukan dengan baik melalui desain holistik maha agung sehingga tak ada sejumput atau bahkan setitik kesalahan yang tersemat disana. segala sesuatu yang dirancang indah dan melalui prosesi rumit diluar logika.
3 menit telah berlalu, kini hanya tinggal serobek kertas pembungkus coklat yang tadi kau lahap. Kini tak ada lagi coklat itu sudah tidak ada lagi di hadapmu. Namun rasa cinta dan rinduku akan selalu ada disana, tepat di hadapmu. Dapatkah kau rasakan?
Kau tak perlu kuatir, bila engkau merindukan coklat-coklat itu ada lagi di hadapmu. Akan ku berikan, semua yang aku miliki untuk mendapatkan coklat untukmu.
Selamat Ulang Tahun
Dengan caramu mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya tanggal 14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang harus tepat jatuh pada pukul 00.00. kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika memperlakukan hidup seperti arena balap lari. namun imanku pada area itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish. Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti didetik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... lima menit yang lalu...
Aku tidak tahu jenis kemalangan apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan atau keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan menjadi pertanda kiamat kecil yang orang ramai gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, perempuan bercinta dengan perempuan, dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir, tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin menjadi hari yang paling di antisipasi, dengan misalnya mengadopsi absurdisitas yang terjadi malam ini? Malam dimana kamu terlambat mengucapkan apa yang harus kamu ucapkan ... satu jam yang lalu...
Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit yang menyalakan aba-aba "1,2, dan 3 " kamu boleh terus percaya bahwa kemarin... besok... lusa... dan hari-hari sesudah itu... aku masih disini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... berjam-jam yang lalu.
By ; dewi 'dee' lestari
Langganan:
Postingan (Atom)