Untuk Engkau
Kamus dan Makna Arti
terkertap sudah waktu berlalu, segala hal yang telah kita lewati bersama dan segala hal yang kita lewatkan. mencari sebuah bekal hati yang kita kata sebagai cinta dan kasih sayang. merenda perpautan hati senti demi senti, berpeluk erat dan merekatkan jemari. memilinkan setiap perasaan dari dua jiwa yang bergerak dalam satu lintasan oval dan terjal. demi engkau yang kucintai dengan segenap pucuk daun trembesi di kala musim semi. demi engkau yang memberikanku sinar jingga di saat perbatasan malam dan siang. demi engkau yang menerangiku dengan sinar terang dari bola pucat yang mengintip dari balik awan saat semuanya memilih pergi dan hitam. demi engkau yang memiliki hatiku.
aku ada disini, menatap habis siluetmu yang terkena sinar jingga di bukit itu. sepuluh bulan kita bersama dalam dekap cinta kasih sayang dalam kamus kita. sebuah kamus yang berisi bahasa abnormal yang kita susun bersama. sehingga tak ada satupun malaikat atau setan yang tahu. kamus yang menahbiskan setiap rasa yang pernah kita tanam dalam sebuah dokumentasi penuh makna.
hari ini seperti biasa yang kau lakukan, menjelang tanggal dua belas. engkau berada di bukit itu sambil memapah sebuah kamus berukuran besar di dadamu, dengan wajah berseri dan penuh rona kebahagiaan engkau menatap luas samudra jingga yang terpapar senja. kau tahu aku ada. kau membisikkan namaku dengan lembut... mengajakku untuk merengkuh dan menemanimu di batas dua dunia itu. aku terdiam namun aku tetap memandangimu lekat-lekat. dengan langkah kecil nan halus, engkau bersandar pada sebuah pohon pinus, lalu kau buka lembar demi lembar kamus setebal dua puluh sentimeter itu dan mungkin lembaran itu masih akan terus bertambah hingga kertap batas yang kau pun tak tahu akan berhenti di titik apa. kau baca lembar demi lembar kamus itu serta sesekali engkau menguncupkan bibirmu yang menggemaskan itu lalu kau tertawa dengan lembut. aku masih terus memandangimu dari kejauhan, dari belenggu batas mega yang belum dapat kita singkirkan. aku terdiam, memandangimu lekat-lekat.
tibalah engkau pada lembar ke dua ratus tujuh puluh sembilan. sebuah lembaran yang kau isi dengan kosa kata baru dan segala jenis imagi. tiba-tiba kau terka suatu noktah hitam yang tak kau tahu asal-muasalnya. dan ada sejumput engkau yang mempertanyakan noktah itu kepadaku yang tengah terpaku di batas langit oranye. kau pun terus bertanya-tanya ada apa dengan lembaran yang harusnya adalah lembar putih tempat engkau meletakkan segala jenis kosakata baru dalam perpautan hati kita. engkau berteriak sejadi-jadinya, napasmu mulai memburu. terjadi gemuruh dalam lautan hatimu seiring aku yang terus membisu di sudut horizon. tiba-tiba kau melorot dari pohon pinus tempat kau bersandar. aku tahu apa yang kautangiskan dan aku tau cara mengobatinya, tapi nanti. lalu kau berjalan ke tepi bukit perbatasan antara laut yang mendekap daratan. lalu kau berusaha berlari menuju horizon tempat ku berada, membawa perasaan seberagam langit senja antara duka, murka, cinta yang tak tahu harus dilabuhkan ke mana. saat itu pula terbesit di pikiranmu untuk terjun bebas melayang dari puncak bukit untuk berlabuh ke lautan biru penuh deburan ombak. namun akhirnya kau memilih untuk larut bersama senja menuju rekahan mega di ufuk barat sebagai pilihan yang masuk akal bagimu. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat.
ingin rasanya aku ikut berlari, menyusulmu berteriak kepadamu agar kau kembali, merengkuh bahumu dan mengecup keningmu. namun bahasaku tinggal rasa, bagaimana aku bisa berkata jika aku masih terus disini. engkau yang lelah karena karena aku yang masih diam seribu bahasa. engkau bersusah hati dan terbang perlahan menuju suatu amarah, namun kau tak sanggup. makna cinta di kamus kita lebih kuat daripada makna amarah, duka, maupun murka. kau menangis sejadi-jadinya. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat dan sesekali menyeka mata air.
engkau lelah, kini kuizinkan engkau terlelap karena tiupan angin yang membelai rambut panjangmu, memberikan sensasi yang akan memanjakanmu disaat aku terkurung disini. tapi aku janji akan pulang kepadamu suatu hari nanti. memelukmu dengan hangat dan terbuka. menerimamu, mengertimu, memahami tiap bahasa roh yang kau tiupkan kepadaku. menafsirkan berbait-bait doa yang kau kirimkan untukku. aku yakin engkaulah jawaban atas kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. jagalah hati itu. jaga kamus dan pilinan hati yang sudah kita jalin ini.
Percayalah kepadaku, dalam perasaanku inilah engkau akan pulang dan bertemu denganku. dan perasaan ini dapat kau nikmati sekarang, nanti, besok ataupun seratus ribu tahun kemudian. kaulah arti kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. suatu saat nanti aku akan mendekapmu perlahan, mengecup dahimu, dan menempatkan kepalamu di pundakku. meruntuhkan diam yang selama ini membelenggu.
moco iki buffering sek --"
BalasHapus