Rabu, 14 November 2012

Rindu

malam ini kurasakan lebih dingin dari segala malam yang pernah ku lewati. ingin ku terkurung dalam sebuah selimut yang membalutku dalam damai. dengan segala keagungan aku ingin berhenti dari semua yang menyesakkan lubang kerongkonganku ini. dari semua udara lembab dan kering yang menyumpal sepasang paru-paruku. 

malam ini begitu linglung, kurasakan angin begitu canggung berhembus. rembulan pucat disertai hujan rintik yang kaku menghujam dari pucuk langit dengan gemulai. dingin. canggung. linglung. 

entah mengapa malam ini aku merasa begitu jauh dari dirimu, dari sosok yang selama ini kukenal betul. sosok yang ku hafal betul temperature uap tubuhnya, atau setiap molekul karbon dioksida yang ia hembuskan tiap kali bersua bersamaku. sosok yang kucintai lebih dari aku mencintai diriku sendiri. 

aliran sungai yang beratas namakan dirimu didalam hati yang selama ini mengalir dengan tenang seolah hilang seketika.  berhenti  dan kering kerontang hanya dalam waktu sepersekian sekon. aku tak tahu kenapa. kurasakan malam ini begitu kabung. duka mengalir dalam darah. aku tak tahu kenapa. 

mungkin ini adalah suatu hal yang wajar bagi seluruh mahkluk hidup yang pernah merasakan cinta. terlebih merasakan cinta manusia yang sangat sulit diterka. semua rasa itu terhenti begitu mendadak, tidak mau bergerak sama sekali. beku, hampa. aku tak tahu kenapa. semua gelora dan air terjun yang semula kurasakan begitu deras mengalir, sirna. 

jauh terperangkap dalam sebuah imagi yang membawaku kian risik. apakah ini adalah untuk sementara, seperti pergantian musim hujan hendak menjadi kemarau? atau berhenti total permanen layaknya badai yang memporak-porandakan permukaan hati? 

tiap detik yang kulakukan saat ini semakin menghanyutkanku di dunia antah berantah yang tak terdapat apapun tentang kau. semakin jauh dari dirimu. semakin risik. 

bukankah aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri. Tapi aku pengap dan  kau telah nampak jengah. apakah aku sudah sampai pada titik nadzir pencapaianku padamu atau engkau yang sudah menemui titik zenith. nadzir dan zenith sejajar. entahlah aku tak tahu. kemana aku harus berlari?

tapi aku tak mau berhenti menyayangimu. menyayangimu adalah ibarat sebuah kerja yang dengan senang hati kulakukan. kukerjakan tanpa perlu komando dari siapapun di dunia ini. suatu pekerjaan yang kulakukan selama dua puluh empat dalam sehari, tanpa berhenti atau istirahat dan aku rela untuk tak digaji.

bersamamu, menyayangimu adalah sebuah anugerah yang begitu indah bagiku. membuat hidupku begitu utuh dan sempurna. bersamamu membuat batin dan sukmaku tersiram air damai setiap waktu. aku tak mau sungaiku berhenti untuk selamanya. aku tak mau mati kekeringan. jiwaku membutuhkanmu, membutuhkan sungai yang kau cipta melalui pendar-pendar itu.

maka,

biarkanlah aku untuk sejenak berada dalam dekapan malam untuk mengadu. menceritakan seluk beluk karat dan mata air yang telah kita kenal bersama. mengenang tiap milisekon dan inci tawa yang keluarkan dari kedua mulut kita. biarlah aku bergumam tentang senandung kecilmu saat menyambutku sesaat setibaku dirumah kita. biarkanlah aku menulis tiap bisik dan desah yang kau utarakan melalui bibirmu yang menggemaskan  itu. biarkanlah aku membawa setiap air mata dari mata air kehidupanmu itu. biarkanlah aku menyatu dengan siluet dirimu, larut dalam dingin api perdiangan di malam ini. 

agar aku bisa...

mengalirkan kembali sungai itu

bersatu menuju damai jiwa dan kekal dalam perpautan hati tanpa mengenal titik akhir.


Selasa, 13 November 2012

Kamus dan Makna Arti


Untuk Engkau 


Kamus dan Makna Arti

terkertap sudah waktu berlalu, segala hal yang telah kita lewati bersama dan segala hal yang kita lewatkan. mencari sebuah bekal hati yang kita kata sebagai cinta dan kasih sayang.  merenda perpautan hati senti demi senti, berpeluk erat dan merekatkan jemari. memilinkan setiap perasaan dari dua jiwa yang bergerak dalam satu lintasan oval dan terjal. demi engkau yang kucintai dengan segenap pucuk daun trembesi di kala musim semi. demi engkau yang memberikanku sinar jingga di saat perbatasan malam dan  siang. demi engkau yang menerangiku dengan sinar terang dari bola pucat yang mengintip dari balik awan saat semuanya memilih pergi dan hitam. demi engkau yang memiliki hatiku.

aku ada disini, menatap habis siluetmu yang terkena sinar jingga di bukit itu. sepuluh bulan kita bersama dalam dekap cinta kasih sayang dalam kamus kita.  sebuah kamus yang berisi bahasa abnormal yang kita susun bersama. sehingga tak ada satupun malaikat atau setan yang tahu. kamus yang menahbiskan setiap rasa yang pernah kita tanam dalam sebuah dokumentasi penuh makna.

hari ini seperti biasa yang kau lakukan, menjelang tanggal dua belas. engkau berada di bukit itu sambil memapah sebuah kamus berukuran besar di dadamu, dengan wajah berseri dan penuh rona kebahagiaan engkau menatap luas samudra jingga yang terpapar senja. kau tahu aku ada. kau membisikkan namaku dengan lembut... mengajakku untuk merengkuh dan menemanimu di batas dua dunia itu. aku terdiam namun aku tetap memandangimu lekat-lekat. dengan langkah kecil nan halus, engkau bersandar pada sebuah pohon pinus, lalu kau buka lembar demi lembar kamus setebal dua puluh sentimeter itu dan mungkin lembaran itu masih akan terus bertambah hingga kertap batas yang kau pun tak tahu akan berhenti di titik apa. kau baca lembar demi lembar kamus itu serta sesekali engkau menguncupkan bibirmu yang menggemaskan itu lalu kau tertawa dengan lembut. aku masih terus memandangimu dari kejauhan, dari belenggu batas mega yang belum dapat kita singkirkan. aku terdiam, memandangimu lekat-lekat.

tibalah engkau pada lembar ke dua ratus tujuh puluh sembilan. sebuah lembaran yang kau isi dengan kosa kata baru dan segala jenis  imagi. tiba-tiba kau terka  suatu noktah hitam yang tak kau tahu asal-muasalnya. dan ada sejumput engkau yang mempertanyakan noktah itu kepadaku yang tengah terpaku di batas langit oranye.  kau pun terus bertanya-tanya ada apa dengan lembaran yang harusnya adalah lembar putih tempat engkau meletakkan segala jenis kosakata  baru dalam perpautan hati kita. engkau berteriak sejadi-jadinya, napasmu mulai memburu. terjadi gemuruh dalam lautan hatimu seiring aku yang terus membisu di sudut horizon. tiba-tiba kau melorot dari pohon pinus tempat kau bersandar. aku tahu apa yang kautangiskan dan  aku tau cara mengobatinya, tapi nanti. lalu kau berjalan ke tepi bukit perbatasan antara  laut yang mendekap daratan. lalu kau berusaha berlari menuju horizon tempat ku berada, membawa perasaan seberagam langit senja antara duka, murka, cinta yang tak tahu harus dilabuhkan ke mana. saat itu pula terbesit di pikiranmu untuk terjun bebas melayang dari puncak bukit untuk berlabuh ke lautan biru penuh deburan ombak. namun akhirnya kau memilih untuk larut bersama senja menuju rekahan mega di ufuk barat sebagai pilihan yang masuk akal bagimu. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat.

ingin rasanya aku ikut berlari, menyusulmu berteriak kepadamu agar kau kembali, merengkuh bahumu dan mengecup keningmu. namun bahasaku tinggal  rasa, bagaimana aku bisa berkata jika aku masih terus  disini. engkau yang lelah karena karena aku yang masih diam seribu bahasa.  engkau bersusah hati dan terbang perlahan menuju suatu amarah, namun kau tak sanggup. makna cinta di kamus kita lebih kuat daripada makna amarah, duka, maupun murka. kau menangis sejadi-jadinya. aku masih terus terdiam, memandangimu lekat-lekat dan sesekali menyeka mata air.

engkau lelah, kini kuizinkan engkau terlelap karena tiupan angin yang membelai rambut panjangmu, memberikan sensasi yang akan memanjakanmu disaat aku terkurung disini. tapi aku janji akan pulang kepadamu suatu hari nanti. memelukmu dengan hangat dan terbuka. menerimamu, mengertimu, memahami tiap bahasa roh yang kau tiupkan kepadaku. menafsirkan berbait-bait doa yang kau kirimkan untukku. aku yakin engkaulah jawaban atas kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. jagalah hati itu. jaga kamus dan pilinan hati yang sudah kita jalin ini.

Percayalah kepadaku, dalam perasaanku inilah engkau akan pulang dan bertemu denganku. dan perasaan ini dapat kau nikmati sekarang, nanti, besok ataupun seratus ribu tahun kemudian. kaulah arti kata cinta dan kasih sayang dalam hidupku. suatu saat nanti aku akan mendekapmu perlahan, mengecup dahimu,  dan menempatkan kepalamu di pundakku. meruntuhkan diam yang selama ini membelenggu.



Senin, 03 September 2012

Senja




          senja, sejak pertama kali aku mengenal, ia tidak pernah berubah. setiap lekuk dan guratan tubuhnya aku hafal betul. tiap hembus udara, tiap uap tubuh yang mengalir deras, tiap berkas sinar jingga oranye yang memancar di tiap kelebat kehadirannya dan bahkan sedikit gerik dari kejauhan pun aku hafal.   tiap hari kami bercengkerama, tidak hanya untuk melepas kerinduan yang kami alami tiap detiknya tapi juga depa yang telah  tertempuh. senja selalu nampak ramah denganku, menyapa dengan tutur halus dan manja. aku selalu terbuai dengan bujuk rayunya sehingga aku pun betah berlama-lama dengannya untuk sekedar mengelus rambutnya yang tergerai sebahu itu. 
          senja  mengajarkan aku cara tertawa bebas, cara berbisik dengan dedaunan, dan mengintip bidadari yang tengah hanyut dalam kegembiraan penuh canda di pinggir kali. senja tak sekali pun muram apalagi bersedih. ia bebas bagai angin. padahal ia bukan angin, ia senja. tapi ia tak pernah lupa bahwa ia tetaplah secercah senja. itulah hal yang paling kusuka. aku senang sekali mendengar tawanya yang terkekeh-kekeh tiap aku menceritakan hal-hal konyol yang kualami sepanjang hari. suara merdunya sungguh menenangkan batinku. apalagi ketika ia asyik bercerita tentang hidupnya. tentang bagaimana ia menjelma ricik. terkadang ia juga bercerita tentang ibu bapaknya yang jauh disana, meninggalkan ia dan satu-satunya saudara yang tak pernah disebutkan namanya. anonim.
           senja tak pernah mendamba pagi. ia selalu menghindar kala pagi datang. jika ia terlanjur bertemu pagi, perangainya pun berubah. ia pun seolah tak mengenalku, menyapapun tidak. entah kenapa. namun aku pun tak berusaha mencari tahu alasan kenapa ia membenci pagi. yang ku tahu  ia senjaku, senja milikku.  selamanya. dan aku tak akan pernah bosan menemaninya. pertanyaan terbesarku adalah justru apakah senjaku juga berhorizon sama denganku? aku juga tak tahu. aku tak berusaha mencari tahu. yang ku tahu ia senjaku, senja milikku.
           hari ini aku akan menemuinya. seperti biasa, kami berjumpa di bukit sinai. aku berjalan sambil sesekali berlari mengejar waktu untuk bertemu senja. karena perjalanan ini sangatlah memakan waktu. aku harus mengitari bukit itu terlebih dahulu. menanggalkan tiap hal buruk agar berceceran sepanajang jalan. aku bisa menemui senja dengan keadaan bersih. kubayangkan ia disana, di puncak bukit sinai, menyapaku hangat dan manja seperti  biasanya. 
            kuhitung tiap detik perjalananku untuk bertemu dengannya hari ini, 648000 milisekon. 
            tibalah aku di puncak bukit. kupandangi sekelilingku, rerumputan hijau yang tumbuh teratur, seonggok batu hitam besar, sebatang pohon trembesi menjulang tegap, udara embun sekeliling yang sangat  kukenal dengan akrab.  kusapa merdu senja milikku, kusebut namanya dengan halus. namun ia tak menjawab panggilanku, tak kudengar pula suara merdu itu. ia tak ada disana. ah, mungkin ia datang agak terlambat atau dia memang belum selesai dari pekerjaan yang menjadikannya senja. aku akan menunggunya disitu, dibawah pohon trembesi. 
           mungkin senjaku tengah sekedar membantu Tuhan yang tengah kerepotan menyebarkan petang di seluruh penjuru dunia. membantu Tuhan untuk memberi sejumput lembar surga atas pengharapan yang tak kunjung usai untuk mereka atau hanya justru memberi seberkas tempat untuk memulai mimpi dan peraduan atas kejamnya matahari. 
           aku masih menunggu disini, bedanya sekarang aku telah memiliki perapian yang kubuat seadanya dari dedaunan kering pohon trembesi yang menaungiku. kubuat seadanya, dengan api kecil  dan udara yang semakin menggigit. aku masih bertahan. aku tak akan pulang sebelum bertemu senja. aku akan bertahan disini. menanti kedatangannya dengan penuh senyum manja. 
           apakah mungkin Tuhan berkehendak agar senja lembur kerja? atau dia lupa ada janji denganku di bukit ini? ah, mungkin ia lembur. Tuhan pasti sangat kerepotan dengan permintaan manusia akhir-akhir ini. aku bisa maklum. karena Tuhan sendiri, sedangkan ciptaannya tak terhingga jumlahnya. pantas saja senja lembur bekerja. ya, aku akan tetap menunggunya disini. sampai kapanpun. 
           waktu berjalan terus, menggilas semua yang ia lewati. terkadang waktu justru lebih brutal dari apapun di dunia ini. melahap dan merampas tiap detik jatah hidup atas segala yang hidup. dengan perlahan merenggut nyawa tiap inci keluar dari kerongkongan hingga terlepas secara sempurna. namun waktu tak akan mampu mengalahkanku, waktu tak akan mampu menumbangkanku untuk bisa bertemu dengan senja.
            aku tetap bertahan......
            sampai detik ini. aku masih menunggu senja dengan senang hati dan suka cita. pohon trembesi dan batu hitam itu masih bertahan menemaniku menunggu kedatangan senja. mereka kawan terbaikku. kadang kami berbincang tentang keindahan senja yang kunanti-nanti. namun kini si batu hitam harus menghela nafas panjang tiap kali bercerita. nafasnya mulai tak lancar dan kadang tersengal. begitu pula si trembesi, kini ia membungkuk. tubuhny tak lagi kekar menjulang diatas bukit. lumut mulai menjalar di sekujur tubuhnya. aku masih akan terus menunggu. ya, aku terus menunggu. namun kini aku tinggal aku sendiri, aku. bukan siapa-siapa. ragaku telah menyerah, ia tergolek terkubur disitu, di bawah pohon trembesi  tua itu dan batu hitam itu sebagai lambang bahwa aku terbaring  di bawah tanah mereka berpijak. yaa, batu hitam itu menjadi batu nisan ku. meski hanya jiwa ini yang tersisa, aku akan selamanya disana. aku masih terus menunggu......................... senjaku..........







Numpang Lewat