apa yang ada dalam sebungkus coklat? sekecap rasa manis? atau lebih dari itu? lalu apa selanjutnya yang akan kau lakukan dengan coklat itu? kau makan? kau bagikan ke orang lain? dan apakah semua itu lewat begitu saja melalaui kerongkonganmu yang sunyi itu? dan akhirnya berakhir di tempat pembuangan di keesokan harinya?
aku tak tahu apa yang akan kau lakukan ataupun apa yang kau dapat dari sebungkus coklat dan aku pun lebih tidak perduli apa yang kau pikirkan.
sebelum kau makan coklat itu, aku ingin kau tahu. semua itu berarti lebih untukku, bukan hanya coklat. ada jutaan kata yang tersemat disitu, beribu perasaan yang menyumbat cerna, ada secerca perasaan yang kata orang itu adalah cinta, ada pula rindu yang terkemas dalam sebongkah rasa manis, dan ada aku yang terlipat halus diantara padatnya coklat dan kacang almond yang akan kau lahap. apa kau sadar?
2 menit berlalu
kini kau telah lahap separuh bagian dari coklat itu. lalu apa yang kau rasa dengan seperempat bagian itu?
kini biarkan aku terbaring di sana, di sisa separuh yang terkulai di hadapmu.
nikmatilah, adakah aku yang kau tangkap di setiap indera yang kau miliki?
aku belum bisa memberikanmu harta yang berlimpah untuk kau nikmati. Tapi aku selalu berusaha untuk memberimu, meski terkadang adalah hal-hal sepele. Seperti setiap waktu yang ku beri untukmu dan sesuatu lain yang mungkin masih kau ingat.
aku percaya bahwa kita telah dipertemukan dengan baik melalui desain holistik maha agung sehingga tak ada sejumput atau bahkan setitik kesalahan yang tersemat disana. segala sesuatu yang dirancang indah dan melalui prosesi rumit diluar logika.
3 menit telah berlalu, kini hanya tinggal serobek kertas pembungkus coklat yang tadi kau lahap. Kini tak ada lagi coklat itu sudah tidak ada lagi di hadapmu. Namun rasa cinta dan rinduku akan selalu ada disana, tepat di hadapmu. Dapatkah kau rasakan?
Kau tak perlu kuatir, bila engkau merindukan coklat-coklat itu ada lagi di hadapmu. Akan ku berikan, semua yang aku miliki untuk mendapatkan coklat untukmu.
Sabtu, 02 Februari 2013
Selamat Ulang Tahun
Dengan caramu mengagungkan momentum, kamu membuatku ikut percaya betapa sakralnya tanggal 14 februari atau tiupan terompet tahun baru yang harus tepat jatuh pada pukul 00.00. kamu membuatku percaya ada poin tambahan jika memperlakukan hidup seperti arena balap lari. namun imanku pada area itu luruh dalam satu malam karena kegagalanmu mencapai garis finish. Lihatlah detik itu, jarum jam itu, momentum yang tak lagi berarti didetik pertama kamu gagal mengucapkan apa yang harusnya kamu ucapkan... lima menit yang lalu...
Aku tidak tahu jenis kemalangan apa yang menimpa kamu, tapi aku ingin percaya ada insiden yang cukup dahsyat di dunia serba seluler ini hingga kamu tidak bisa menghubungiku. Mungkinkah matahari lupa ingatan atau keasyikan terbenam atau terlambat terbit? Bahkan kiamat pun hanya bicara soal arah yang terbalik, bukan soal perubahan jadwal. Atau mungkinkah ini akan menjadi pertanda kiamat kecil yang orang ramai gunjingkan, tentang lelaki berbaju perempuan, perempuan berbaju lelaki, lelaki bercinta dengan lelaki, perempuan bercinta dengan perempuan, dan kalau mereka mau menengok sejarah manusia ribuan tahun terakhir, tidakkah tanda semacam itu sudah apkir, klise, dan kiamat harus menyiapkan tanda-tanda baru bila masih ingin menjadi hari yang paling di antisipasi, dengan misalnya mengadopsi absurdisitas yang terjadi malam ini? Malam dimana kamu terlambat mengucapkan apa yang harus kamu ucapkan ... satu jam yang lalu...
Satu waktu nanti, saat kamu berhenti percaya manusia bisa punya sayap selain lempeng besi yang didorong mesin jet, saat kamu berhenti percaya hidup lebih bermakna bila ada wasit yang menyalakan aba-aba "1,2, dan 3 " kamu boleh terus percaya bahwa kemarin... besok... lusa... dan hari-hari sesudah itu... aku masih disini. Menunggu kamu mengucapkan apa yang seharusnya kamu ucapkan... berjam-jam yang lalu.
By ; dewi 'dee' lestari
Langganan:
Postingan (Atom)