senja, sejak pertama kali aku mengenal, ia tidak pernah berubah. setiap lekuk dan guratan tubuhnya aku hafal betul. tiap hembus udara, tiap uap tubuh yang mengalir deras, tiap berkas sinar jingga oranye yang memancar di tiap kelebat kehadirannya dan bahkan sedikit gerik dari kejauhan pun aku hafal. tiap hari kami bercengkerama, tidak hanya untuk melepas kerinduan yang kami alami tiap detiknya tapi juga depa yang telah tertempuh. senja selalu nampak ramah denganku, menyapa dengan tutur halus dan manja. aku selalu terbuai dengan bujuk rayunya sehingga aku pun betah berlama-lama dengannya untuk sekedar mengelus rambutnya yang tergerai sebahu itu.
senja mengajarkan aku cara tertawa bebas, cara berbisik dengan dedaunan, dan mengintip bidadari yang tengah hanyut dalam kegembiraan penuh canda di pinggir kali. senja tak sekali pun muram apalagi bersedih. ia bebas bagai angin. padahal ia bukan angin, ia senja. tapi ia tak pernah lupa bahwa ia tetaplah secercah senja. itulah hal yang paling kusuka. aku senang sekali mendengar tawanya yang terkekeh-kekeh tiap aku menceritakan hal-hal konyol yang kualami sepanjang hari. suara merdunya sungguh menenangkan batinku. apalagi ketika ia asyik bercerita tentang hidupnya. tentang bagaimana ia menjelma ricik. terkadang ia juga bercerita tentang ibu bapaknya yang jauh disana, meninggalkan ia dan satu-satunya saudara yang tak pernah disebutkan namanya. anonim.
senja tak pernah mendamba pagi. ia selalu menghindar kala pagi datang. jika ia terlanjur bertemu pagi, perangainya pun berubah. ia pun seolah tak mengenalku, menyapapun tidak. entah kenapa. namun aku pun tak berusaha mencari tahu alasan kenapa ia membenci pagi. yang ku tahu ia senjaku, senja milikku. selamanya. dan aku tak akan pernah bosan menemaninya. pertanyaan terbesarku adalah justru apakah senjaku juga berhorizon sama denganku? aku juga tak tahu. aku tak berusaha mencari tahu. yang ku tahu ia senjaku, senja milikku.
hari ini aku akan menemuinya. seperti biasa, kami berjumpa di bukit sinai. aku berjalan sambil sesekali berlari mengejar waktu untuk bertemu senja. karena perjalanan ini sangatlah memakan waktu. aku harus mengitari bukit itu terlebih dahulu. menanggalkan tiap hal buruk agar berceceran sepanajang jalan. aku bisa menemui senja dengan keadaan bersih. kubayangkan ia disana, di puncak bukit sinai, menyapaku hangat dan manja seperti biasanya.
kuhitung tiap detik perjalananku untuk bertemu dengannya hari ini, 648000 milisekon.
tibalah aku di puncak bukit. kupandangi sekelilingku, rerumputan hijau yang tumbuh teratur, seonggok batu hitam besar, sebatang pohon trembesi menjulang tegap, udara embun sekeliling yang sangat kukenal dengan akrab. kusapa merdu senja milikku, kusebut namanya dengan halus. namun ia tak menjawab panggilanku, tak kudengar pula suara merdu itu. ia tak ada disana. ah, mungkin ia datang agak terlambat atau dia memang belum selesai dari pekerjaan yang menjadikannya senja. aku akan menunggunya disitu, dibawah pohon trembesi.
mungkin senjaku tengah sekedar membantu Tuhan yang tengah kerepotan menyebarkan petang di seluruh penjuru dunia. membantu Tuhan untuk memberi sejumput lembar surga atas pengharapan yang tak kunjung usai untuk mereka atau hanya justru memberi seberkas tempat untuk memulai mimpi dan peraduan atas kejamnya matahari.
aku masih menunggu disini, bedanya sekarang aku telah memiliki perapian yang kubuat seadanya dari dedaunan kering pohon trembesi yang menaungiku. kubuat seadanya, dengan api kecil dan udara yang semakin menggigit. aku masih bertahan. aku tak akan pulang sebelum bertemu senja. aku akan bertahan disini. menanti kedatangannya dengan penuh senyum manja.
apakah mungkin Tuhan berkehendak agar senja lembur kerja? atau dia lupa ada janji denganku di bukit ini? ah, mungkin ia lembur. Tuhan pasti sangat kerepotan dengan permintaan manusia akhir-akhir ini. aku bisa maklum. karena Tuhan sendiri, sedangkan ciptaannya tak terhingga jumlahnya. pantas saja senja lembur bekerja. ya, aku akan tetap menunggunya disini. sampai kapanpun.
waktu berjalan terus, menggilas semua yang ia lewati. terkadang waktu justru lebih brutal dari apapun di dunia ini. melahap dan merampas tiap detik jatah hidup atas segala yang hidup. dengan perlahan merenggut nyawa tiap inci keluar dari kerongkongan hingga terlepas secara sempurna. namun waktu tak akan mampu mengalahkanku, waktu tak akan mampu menumbangkanku untuk bisa bertemu dengan senja.
aku tetap bertahan......
sampai detik ini. aku masih menunggu senja dengan senang hati dan suka cita. pohon trembesi dan batu hitam itu masih bertahan menemaniku menunggu kedatangan senja. mereka kawan terbaikku. kadang kami berbincang tentang keindahan senja yang kunanti-nanti. namun kini si batu hitam harus menghela nafas panjang tiap kali bercerita. nafasnya mulai tak lancar dan kadang tersengal. begitu pula si trembesi, kini ia membungkuk. tubuhny tak lagi kekar menjulang diatas bukit. lumut mulai menjalar di sekujur tubuhnya. aku masih akan terus menunggu. ya, aku terus menunggu. namun kini aku tinggal aku sendiri, aku. bukan siapa-siapa. ragaku telah menyerah, ia tergolek terkubur disitu, di bawah pohon trembesi tua itu dan batu hitam itu sebagai lambang bahwa aku terbaring di bawah tanah mereka berpijak. yaa, batu hitam itu menjadi batu nisan ku. meski hanya jiwa ini yang tersisa, aku akan selamanya disana. aku masih terus menunggu......................... senjaku..........
hmmmm, tampaknya kita mulai meniti satu garis yang sama :)
BalasHapusoya? iya mungkin, tapi aku tidak meniti. aku berkawan, dengan salah satu garis, yaitu aku. :D
BalasHapusdan tampaknya kita juga harus selalu menyelaraskan apa yang ada dibenak kita, agar kita bisa terus seiring tanpa ada yang digiring
BalasHapus